Bangsa Israel tiba di padang gurun Zin, tempat Miryam, saudara perempuan Musa, meninggal dan dikuburkan. Di sana tidak ada air, dan bangsa itu berkumpul melawan Musa dan Harun, mengeluh karena dibawa ke padang gurun untuk mati. Musa dan Harun pergi ke pintu masuk Kemah Pertemuan dan sujud menyembah, dan kemuliaan Tuhan muncul. Tuhan memerintahkan Musa untuk mengambil tongkatnya dan memerintahkan batu itu untuk mengeluarkan air. Tetapi Musa, yang dikuasai amarah, berbicara dengan gegabah kepada bangsa itu dan memukul batu itu dua kali dengan tongkatnya, dan air pun memancar keluar. Namun Tuhan berkata kepada mereka bahwa karena mereka tidak menghormati Tuhan di hadapan bangsa itu, mereka tidak akan memimpin bangsa itu masuk ke tanah perjanjian.
Musa memimpin bangsa Israel selama empat puluh tahun sebagai hamba yang paling setia, tetapi satu tindakan impulsif membuatnya tidak memenuhi syarat untuk memasuki Tanah Perjanjian. Tuhan memerintahkan untuk berbicara kepada batu itu, tetapi Musa malah memukulnya dua kali dengan tongkatnya. Kemarahan dan ketidaksabaran menyebabkan dia menyimpang dari perintah Tuhan. Hal ini mengingatkan kita bahwa para pemimpin memiliki tanggung jawab yang lebih besar, dan kehilangan kendali emosi dapat menyebabkan konsekuensi yang tidak dapat dipulihkan. Dalam hidup, kita harus belajar untuk mengelola emosi kita dan tetap taat pada perintah Tuhan di bawah tekanan.
Cerita gratis tersedia di web; cerita unggulan dan perjalanan dibuka di Aplikasi FaithSow
Cerita gratis tersedia di web; cerita unggulan dan perjalanan dibuka di Aplikasi FaithSow